FATIS LAILAHA ILALLAH, ASTAGFIRULLAHALAZHIM, DAN INSYAALLAH DALAM CERITA REKAAN BERBAHASA SUNDA (PHATIC FORM OF LAILAHA ILALLAH, ASTAGHFIRULLAHALAZIM, AND INSHAALLAH IN SUNDANESE FICTIONS)

NFN Wahya, Hera Meganova Lyra, Yudi Permadi, Abdul Kosim

Abstract


Every language has elements that serve as pragmatic function to emphasize or afirm the purpose of speech and those of to express emotions. Sundanese is a language that is rich in such elements that is called phatic form. Such forms in Sundanese language have the origins of Sundanese and also loan words, for example from Arabic. The use of Arabic loan words is in line with the practice of Islamic religion by the Sundanese people and has become a part of Sundanese culture so that the writing and pronunciation has been adapted to the Sundanese language system. This paper discusses three phatic forms derived from Arabic with its variations. The problem to discuss is what kind of intentions that is emphasized or afirmed by phatic forms in sentences and what kind of emotions that is expressed by phatic forms in sentences? Therefore, this paper’s objectives is to discuss the intentions emphasized or afirmed by phatic forms in sentences and the kind of emotions expressed by phatic forms in sentences. The irst problem involves all three phatic forms, while the second problem only involves the irst two phatic forms. Data were collected by observation method with the recording technique. Data were analyzed using distributional and referential method. Data source were ten Sundanese ictions. The results shows that the three phatic forms emphasize or afirm the intentions of surprise, astonishment, regret, shock, and willingness. The irst two phatic forms express emotions of surprise, astonishment, regret, and dumbfounded. 

 

Abstrak

Bahasa alamiah di seluruh di dunia memiliki ciri keuniversalan dan keunikan. Setiap bahasa memiliki unsur bahasa  yang secara pragmatik memiliki fungsi untuk menekankan atau menegaskan maksud tuturan. Di samping itu, setiap bahasa memiliki unsur bahasa yang berfungsi mengekspresikan emosi. Akan tetapi, wujud dan jumlah unsur-unsur bahasa tersebut berbeda-beda sesuai dengan keunikan bahasa masing-masing. Bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa yang kaya dengan unsur bahasa seperti dikatakan di atas. Unsur bahasa yang memiliki fungsi seperti itu di samping ada yang berasal dari bahasa Sunda sendiri, ada pula yang berasal dari bahasa lain, yakni unsur serapan dari bahasa Arab. Penggunaan unsur serapan dari bahasa Arab ini sejalan dengan pengamalan ajaran Islam oleh masyarakat Sunda. Penggunaan unsur bahasa di atas sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Sunda sehingga penulisan dan pelafalannya pun sudah diadaptasi mengikuti sistem bahasa Sunda. Unsur bahasa ini disebut fatis. Makalah ini akan membahas tiga fatis yang berasal dari bahasa Arab, yaitu lailaha illallah, astagfirullahalazhim, dan insya Allah dengan variasinya. Masalah yang akan dibahas adalah menekankan atau menegaskan maksud apa saja fatis tersebut dalam kalimat dan mengungkapkan emosi apa saja dalam kalimat? Untuk masalah pertama melibatkan seluruh tiga fatis terrsebut, sedangkan untuk masalah kedua hanya melibatkan dua fatis pertama. Data dikunpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Data dianalisis menggunakan metode agih (distribusional) dan padan. Sumber data berupa sepuluh buku cerita rekaan berbahasa Sunda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga fatis menekankan atau menegaskan maksud keterkejutan, ketercengangan, penyesalan, keterperanjatan, dan kesediaan; kemudian  dua fatis pertama mengekspresikan emosi terkejut, tercengang, menyesal, dan terperanjat.

 

Keywords


Kata kunci:, unsur bahasa, pragmatik, fatis, dan emosi

Full Text:

PDF

References


Ardiwinata, D.K. 1984. Tata Bahasa Sunda. Jakarta: Balai Pustaka.

Arif, Iman Setiadi. 2016. Psikologi Positif Pendekatan Saintiik menuju Kebahagiaan. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Coolsma, S. 1985. Tata Bahasa Sunda. Jakarta: Djambatan.

Djajasudarma, Fatimah. 2009a. Semantik 1 Makna Leksikal dan Makna Gramatika: Reila Aditama.

Djajasudarma, Fatimah. 2009b. Semantik 2 Pemahaman Ilmu Makna. Bandung: Reila Aditama.

Khairani, Makmun. 2016. Psikologi Umum. Cet. II. Edisi Revisi. Yogyakarta: Aswaja Presindo.

Kridalaksana, Harimurti. 1986. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 2012. “Pengantar Ilmiah dari Fungsi Fatis ke Ungkapan Fatis” Dalam

Ungkapan Fatis dalam Pelbagai Bahasa. Depok: Labolatorium Leksikologi dan Leksikograi,

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Sarwono, Sarlito W. 2015. Psikologi Lintas Budaya. Depok: Rajagraindo Persada.

Suciati. 2015. Psikologi Komunikasi. Cet. I. Yogyakarta: Buku Litera.

Sudaryat et al. 2013. Tata Basa Sunda Kiwari. Bandung: Yrama Widya.

Najati, Muhammad Usman. 2005. Alquran dan Psikologi. Diterjemahkan dari Al Qur’an wa Ilm’an

oleh Tb. Ade Asnawi Syihabuddin. Jakarta: Aras Pustaka.

Wahya. 2014. “Sekilas tentang Kategori Fatis dalam Bahasa Sunda: Kajian Pragmatik”. Makalah

pada Seminar Semiotik, Pragmatik, dan Kebudayaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya,

Universitas Indonesia, 17 Juni 2014.

Wahya et al. 2016. “Sisi Sosiolinguistik Penggunaan Fatis Heueuh, Enya, Sumuhun ‘Ya’ dalam

Novel Berbahasa Sunda Numbuk di Sue Karya Moh. Ambri”. Dalam Buku Kumpulan

Makalah Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia (KIMLI) 2016, Universitas

Udayana, Denpasar, 24—27 Agustus 2016.

Wahya et al. 2018. “Fatis Ih sebagai Pengungkap Emosi dalam Novel Berbahasa Sunda Kolebat

Kuwung-Kuwungan Kinasih Katumbirian”. Dalan Jurnal Metahumaniora Edisi Suplemen.

Jatinangor; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Wijana, I Dewa Putu. 2015. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Program Studi S-2

Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada dan Pustaka Pelajar.

Zimbardo, Philip G. 1979. Psichology and Life. Tenth Edition. Scott, Foresman and Company:

Glenview, Ilinois.

Daftar Kamus

Panitia Penerbitan Kamus Basa Sunda. 2009. Kamus Basa Sunda R. A. Danadibrata. Bandung: Kiblat

Buku Utama.

Panitia Kamus Lembaga Basa jeung Sastra Sunda. 2007. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: Geger

Sunten.

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi Keempat. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.




DOI: http://dx.doi.org/10.26499/metalingua.v16i2.255

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal METALINGUA Indexed by:

Google Scholar Directory of Open Access JournalIndonesian Scientific Journal Database (ISJD)  Crossref Mendeley 

 

@2016 Jalan Sumbawa Nomor 11 Bandung 40113 Laman: http://balaibahasajabar.kemdikbud.go.id/

Powered by OJS, edited by donz